Di Ujung Waktu, Menuju Kompetensi Profesional

Saya apt. Dwi Nandalia, S.Farm Sebagai Ketua Jurusan Farmasi di SMK Negeri 8 Lhokseumawe memandang pelaksanaan Ujian Sertifikasi Kompetensi Keahlian (USK) bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebuah momentum penting yang menandai titik akhir sekaligus awal perjalanan peserta didik menuju dunia profesional. Kegiatan yang berlangsung pada 21–26 April 2026 ini menjadi cerminan nyata dari proses panjang pembelajaran yang telah mereka jalani selama tiga tahun.
USK bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga mengukur kesiapan mental, keterampilan praktik, serta sikap profesional peserta didik. Dalam bidang farmasi, kompetensi seperti pelayanan kefarmasian, pengelolaan sediaan obat, pembuatan sediaan sederhana, administrasi farmasi, hingga penerapan K3 merupakan fondasi utama yang harus benar-benar dikuasai. Oleh karena itu, saya melihat bahwa ujian ini menjadi sarana validasi apakah peserta didik telah memenuhi standar yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Pelaksanaan kegiatan ini dipantau langsung oleh Pengawas sekolah, ibu Salma S.Si dan Kepala SMK Negeri 8 Lhokseumawe, Bapak Rudi Anshori, S.Pd., serta didampingi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ibu Nur Amna, S.Pd., M.Pd.
Pelaksanaan ujian yang melibatkan penguji internal dan asesor dari LSP Asnakes Indonesia (Bapak Apt. Heru Widarto, M.Farm dan Bapak Apt.Amin Susilo.,S.Farm,M.K.M) menunjukkan komitmen sekolah dalam menjaga objektivitas dan kualitas penilaian. Kehadiran praktisi industri menjadi nilai tambah, karena peserta didik diuji dengan standar yang relevan dengan kondisi nyata di lapangan. Hal ini penting agar lulusan tidak hanya siap secara teori, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tuntutan profesi.
Saya juga mengapresiasi sistem pelaksanaan yang mengintegrasikan teori dan praktik di laboratorium. Model ini memberikan gambaran autentik kepada peserta didik tentang bagaimana pekerjaan kefarmasian dilakukan secara langsung. Pembagian sesi ujian juga menunjukkan bahwa proses ini dirancang secara matang agar berjalan efektif dan kondusif.
Dengan jumlah peserta sebanyak 107 siswa, tantangan dalam pelaksanaan tentu tidak kecil. Namun, hal ini justru menjadi bukti bahwa semangat dan minat terhadap bidang farmasi terus meningkat. Saya berharap seluruh peserta dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya, tidak hanya untuk lulus, tetapi juga untuk membuktikan bahwa mereka layak menjadi tenaga farmasi yang kompeten.
Pada akhirnya, USK bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan gerbang awal menuju dunia kerja atau pendidikan lanjutan. Sebagai Ketua Jurusan, saya berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi peserta didik untuk melangkah lebih percaya diri, profesional, dan bertanggung jawab di masa depan.
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini